Subulussalam – Selasa (28/07/2026) Loka POM di Kota Subulussalam menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Pengendalian Resistensi Antimikroba dan KIE Farmakovigilans. Kegiatan ini diikuti oleh 30 (tiga puluh) orang peserta yang terdiri dari Apoteker Penanggung Jawab di Sarana Pelayanan Kefarmasian yang terdapat di 5 (lima) wilayah pengawasan Loka POM di Kota Subulussalam, yaitu Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Simeulue secara hybrid (luring dan daring).
Kegiatan ini juga dihadiri oleh ketua PC IAI Kota Subulussalam ibu Apt. Munawaroh, S.Si. dalam sambutannya beliau mengharapkan kegiatan Bimtek ini tidak hanya memperkuat pemahaman klinis tetapi juga menyamakan langkah dalam pilar pengawasan keamanan obat kepada masyarakat luas, serta dapat meningkatkan kompetensi apoteker penanggungjawab dalam melindungi pasien serta mengoptimalkan mutu pelayanan kefarmasian.
Resistensi antimikroba (AMR/Antimicrobial Resistance) dapat mempengaruhi Kesehatan manusia, hewan dan lingkungan yang secara diam – diam menjadi pandemi (silent pandemic) memberi dampak negatif bagi kesehatan masyarakat, keamanan dan ekonomi. Pemerintah Indonesia telah menetapkan pengendalian resistensi antimikroba (AMR) sebagai bagian dari strategi nasional dalam RPJMN 2025 – 2029 yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2025. Badan POM sebagai salah satu Lembaga pemerintah yang berperan dalam pengawasan obat dan makanan tergabung dalam gugus tugas pengendalian AMR dan berkomitmen penuh berupaya mengendalikan resistensi antimikroba sesuai tugas pokok fungsinya.
Selain pembahasan AMR, bimtek ini juga membedah isu penting terkait Farmakovigilans, khususnya pemantauan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) dan Efek Samping Obat (ESO). Pasalnya, data survei menunjukkan sebanyak 79,34% responden mengaku belum pernah melaporkan KTD/ESO akibat minimnya pemahaman teknis.
Melalui kegiatan ini, Loka POM di Kota Subulussalam berharap kesadaran dan angka pelaporan KTD/ESO dari tenaga kesehatan dapat meningkat signifikan. Hal ini krusial guna mendorong penggunaan obat yang aman, rasional dan efektif demi menjamin keselamatan masyarakat.